Self Injury, Tindakan Merusak Diri Menurut Ahli

Utami Maharini

Self injury atau self harm adalah tindakan merusak diri yang dilakukan seseorang secara sengaja. Hal ini dapat terjadi dengan cara memotong, membakar, atau melukai diri sendiri dengan tujuan untuk meredakan emosi yang dirasakan. Menurut ahli psikologi, self injury seringkali merupakan bentuk mekanisme koping bagi individu yang kesulitan mengatasi masalah atau tekanan emosional yang mereka alami.

Ahli psikologi juga menekankan pentingnya untuk mengidentifikasi penyebab di balik perilaku self injury dan memberikan perlakuan yang tepat. Banyak faktor yang dapat memicu seseorang melakukan self injury, seperti trauma masa lalu, gangguan mental, atau masalah dalam hubungan sosial.

Meskipun self injury sering dianggap sebagai cara untuk mengatasi stres atau tekanan, namun pada kenyataannya tindakan ini tidaklah sehat dan bisa berdampak buruk pada kesehatan mental maupun fisik seseorang. Oleh karena itu, penting bagi individu yang mengalami self injury untuk segera mencari bantuan dari ahli psikologi atau terapis guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Dalam mengatasi self injury, ahli psikologi biasanya akan memberikan terapi kognitif perilaku yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku merusak tersebut. Dengan bantuan yang tepat, individu yang mengalami self injury dapat belajar untuk mengekspresikan emosi mereka secara sehat dan lebih efektif.

Jadi, jangan ragu untuk mencari pertolongan jika Anda atau orang terdekat mengalami self injury. Kesehatan mental Anda adalah hal yang sangat berharga dan pantas untuk dijaga dengan baik.

Pengertian Self Injury Menurut Ahli

Self injury atau yang sering disebut juga dengan self-harm adalah tindakan yang dilakukan oleh individu untuk menyakiti atau melukai diri sendiri secara sengaja. Tindakan ini bisa meliputi memotong, membakar, memukul diri sendiri, dan berbagai bentuk lainnya yang dapat menyebabkan rasa sakit atau cedera fisik. Self injury umumnya dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, dan trauma.

Pengertian Menurut Ahli Terkemuka Self Injury

1. Dr. Karen Conterio

Menurut Dr. Karen Conterio, self injury adalah bentuk ekspresi individu yang merasa terjebak dalam emosi negatif dan tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan untuk meredakan atau mengatasi perasaan tersebut. Mereka melakukan tindakan self injury sebagai upaya untuk meredakan tekanan emosional yang mereka rasakan.

2. Dr. Janis Whitlock

Dr. Janis Whitlock memandang self injury sebagai cara seseorang mengalihkan perhatian dari rasa sakit atau penderitaan emosional yang lebih dalam. Menurutnya, self injury adalah bentuk pemecahan masalah yang salah yang dilakukan individu untuk menenangkan diri mereka sendiri.

3. Dr. Barent Walsh

Dr. Barent Walsh berpendapat bahwa self injury adalah strategi pengaturan emosi yang digunakan individu untuk mengatasi ketidakmampuan mereka mengelola emosi secara sehat. Menurutnya, self injury adalah cara non-verbal untuk mengekspresikan tekanan emosional yang terlalu berat untuk diungkapkan dengan kata-kata.

4. Dr. Armando Favazza

Dr. Armando Favazza menganggap self injury sebagai bentuk melindungi diri sendiri dari perasaan yang lebih buruk. Menurutnya, seseorang yang melukai diri sendiri mungkin merasa bahwa cedera fisik adalah solusi terbaik yang mereka miliki untuk mengurangi perasaan yang lebih buruk, seperti kehancuran atau bunuh diri.

5. Dr. Marsha Linehan

Dr. Marsha Linehan melihat self injury sebagai hasil dari ketidakrataan individu dalam mengatur emosi mereka. Menurutnya, self injury adalah bentuk eksternalisasi emosi yang tidak teratur dan tidak terkendali, serta ketidakmampuan dalam meregulasi emosi dengan cara yang sehat.

6. Dr. Jennifer Muehlenkamp

Dr. Jennifer Muehlenkamp memandang self injury sebagai respons individu terhadap ketidakmampuan mereka dalam mengatasi stres dan emosi negatif. Menurutnya, self injury digunakan sebagai bentuk pelepasan emosi yang sementara untuk meredakan stres yang dirasakan.

7. Dr. Edward Selby

Dr. Edward Selby menganggap self injury sebagai cara individu mengalihkan perhatian dari tekanan atau ketidakmampuan dalam menghadapi masalah yang ada. Menurutnya, self injury memberikan rasa kontrol atas kondisi yang tidak terkendali dalam kehidupan seseorang.

8. Dr. Steven Levenkron

Dr. Steven Levenkron melihat self injury sebagai ekspresi atas kemarahan yang terpendam. Menurutnya, individu yang melukai diri sendiri menggunakan self injury sebagai cara untuk mengalihkan atau menuangkan kemarahan yang mereka rasakan.

9. Dr. Wendy Lader

Dr. Wendy Lader memandang self injury sebagai upaya individu untuk menghindari atau meredakan ketidakmampuan mereka dalam menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, self injury memberikan rasa pemisahan atau ketenangan sementara dari situasi yang memicu stres atau tekanan.

10. Dr. Jennifer Wolff

Dr. Jennifer Wolff memandang self injury sebagai bentuk otentikasi diri dan pengekspresian identitas. Menurutnya, individu yang melukai diri sendiri menggunakan self injury sebagai alat untuk mengkomunikasikan rasa sakit atau ketidakmampuan mereka dengan cara yang tidak verbal.

Kelebihan Self Injury Menurut Ahli

1. Membantu Mengatasi Emosi Negatif

Beberapa ahli berpendapat bahwa self injury dapat berperan sebagai bentuk pengaturan emosi yang sementara. Ketika seseorang melukai diri sendiri, endorfin dilepaskan oleh otak untuk meredakan rasa sakit fisik. Hal ini dapat memberikan perasaan lega dan mengalihkan perhatian dari emosi negatif yang dirasakan individu.

2. Memberikan Rasa Kontrol

Self injury juga bisa memberikan rasa kontrol atas hidup seseorang. Individu yang melukai diri sendiri mungkin merasa bahwa mereka memiliki kontrol atas rasa sakit fisik yang mereka alami, meskipun sebenarnya kondisi emosional mereka tidak terkendali. Hal ini dapat memberikan rasa kepuasan dan mengurangi perasaan ketergantungan pada orang lain.

3. Mengekspresikan Rasa Tidak Bisa Diungkapkan Secara Verbal

Self injury bisa menjadi bentuk komunikasi yang tidak verbal bagi individu yang kesulitan untuk mengungkapkan perasaan dan emosi yang mereka alami. Bentuk melukai diri sendiri dapat menjadi cara bagi mereka untuk mengekspresikan rasa sakit, kekosongan, atau ketidakbahagiaan yang tidak dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata.

4. Meredakan Bukan Membunuh

Bahkan sebagian ahli memandang self injury sebagai bentuk alternatif yang lebih aman daripada bunuh diri. Melukai diri sendiri bisa menjadi cara individu untuk meredakan atau mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan tanpa harus membahayakan atau menghilangkan hidup mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap hidup dan mencari perawatan atau dukungan yang dibutuhkan.

Kekurangan Self Injury Menurut Ahli

1. Hanya Mengatasi Simptom

Salah satu kekurangan self injury adalah bahwa tindakan tersebut hanya mengatasi simptom atau dampak dari masalah yang mendasarinya. Melukai diri sendiri tidak menyelesaikan akaar masalah atau penyebab emosi negatif yang dialami individu. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan terintegrasi yang melibatkan terapi dan dukungan yang tepat untuk mengatasi akar masalah tersebut.

2. Potensi Bahaya dan Cedera Fisik

Self injury memiliki risiko bahaya dan cedera fisik yang tinggi. Tindakan tersebut bisa menyebabkan infeksi, kerusakan jaringan, atau bahkan risiko meningkatkan keparahan cedera yang dialami individu. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengurangi risiko dan mempromosikan metode pengaturan emosi yang lebih sehat dan aman.

3. Potensi Ketergantungan

Ada kemungkinan bahwa self injury dapat menciptakan ketergantungan atau kecanduan bagi individu yang melakukannya. Meredakan emosi melalui self injury dapat memberikan perasaan lega atau ketenangan sementara, yang mungkin membuat individu merasa ketergantungan pada tindakan tersebut sebagai cara untuk mengatasi stres atau emosi negatif yang mereka rasakan.

4. Masalah Kesehatan Mental Lainnya

Umumnya self injury dikaitkan dengan masalah kesehatan mental lainnya seperti depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, atau trauma. Tindakan self injury mungkin merupakan salah satu gejala dari masalah ini dan perlu ditangani sebagai bagian dari pendekatan yang holistik untuk perawatan kesehatan mental individu tersebut.

FAQ mengenai Self Injury Menurut Ahli

1. Apa penyebab seseorang melakukan self injury?

Penyebab individu melakukan self injury bisa beragam, termasuk adanya tekanan emosional yang berat, trauma masa lalu, depresi, kecemasan, atau kesulitan dalam mengelola emosi.

2. Apakah semua orang yang melukai diri mereka sendiri memiliki masalah kesehatan mental?

Self injury sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian. Namun, tidak semua orang yang melukai diri mereka sendiri memiliki masalah kesehatan mental.

3. Bagaimana cara membantu seseorang yang melakukan self injury?

Jika Anda mengenal seseorang yang melakukan self injury, penting untuk mendukung mereka dengan cara yang sensitif. Dukungan yang penuh pengertian dan mengarahkan mereka pada bantuan atau perawatan yang sesuai bisa sangat berguna.

4. Apakah self injury bisa sembuh?

Self injury dapat disembuhkan dengan pendekatan terapeutik yang tepat. Terapi kognitif behavioral, terapi dialektikal perilaku, atau terapi individual dapat membantu individu dalam mengurangi atau menghentikan tindakan self injury dan mengatasi masalah kesehatan mental yang mendasarinya.

Kesimpulan

Self injury adalah tindakan yang dilakukan oleh individu untuk menyakiti atau melukai diri sendiri secara sengaja. Tindakan ini umumnya dikaitkan dengan masalah kesehatan mental dan dapat melibatkan berbagai bentuk seperti memotong, membakar, atau memukul diri sendiri. Berbagai ahli memiliki perspektif yang berbeda mengenai self injury, namun secara umum mereka menganggapnya sebagai bentuk pengaturan emosi yang tidak sehat. Self injury memiliki kelebihan seperti memberikan perasaan pengendalian dan meredakan emosi negatif, namun juga memiliki kekurangan seperti hanya mengatasi simptom saja dan berisiko terhadap cedera fisik. Penting untuk menyadari bahwa self injury adalah tindakan yang serius dan membutuhkan pendekatan terapeutik yang tepat untuk membantu individu yang melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *